Motivasi : Ternyata Allaah Itu Ada...



Motivasi : Ternyata Allaah Itu Ada... [ www.BlogApaAja.com ]

Namaku Risma, aku dilahirkan lima puluh dua tahun lalu dari keluargayang mengaku beragama. Sayangnya, sampai aku berumur dua puluh empat tahun takpernah sekalipun aku mendapati papa, mama, serta kedua kakakku melakukan ajaranagama yang kami peluk.

Jujur saja, sebenarnya aku tak begitu menghiraukan dengan semua itu, tohmasih banyak orang bahkan keluarga yang melakukan hal serupa dengan keluargaku.Aku yakin itu, karena kebanyakan keluarga dari teman-temanku juga begitu. Jadi,wajar kan kalau aku merasa biasa saja dengan fenomena yang ada pada keluargaku.

Sayangnya, kata biasa itu kemudian menjebakku dalam rasa pencarian siapayang bisa menolongku saat dalam kondisi terpuruk. Saat itu, usiaku tiga puluhsatu tahun. Di tengah kesibukan merawat anak, aku merasakan kegalauan yang luarbiasa. Beragam cara kulakukan seperti mencurahkan hati pada sahabat, suami,bahkan psikiater, namun usaha mengusir kegalauanku tak kunjung berhasil.

Kubiarkan aku dalam kondisi demikian selama hampir dalam kurun waktutiga tahun. Dalam kurun waktu tersebut aku seperti kehilangan arah, tak tentutujuan. Hingga akhirnya aku menemukan pengalaman yang mampu mengubah hidupkuhingga kini.

Berawal dari ketidaksengajaan saat aku membeli bakso pedagang kelilingyang ada di dekat rumah. Saat itu, dengan membawa mangkok, aku berniat untukmembeli bakso untuk kunikmati sendiri. Anakku sedang sekolah, suamiku sedangbekerja, jadilah aku sendirian di rumah bersama PRT.

Dengan tidak sabar sambil ngomel-ngomel, aku mencaci penjual bakso yangtak kunjung tampak batang hidungnya, meninggalkan gerobak bakso yang ada didepan musholla. Ada sekitar sepuluh menit aku menunggunya. Meski kurasa lama,tapi karena aku sedang ingin makan bakso, kusabar-sabarkan hatiku.

Saat penjual baksonya tampak, dia keluar dari arah musholla denganlangkah tergopoh-gopoh. Sembari memakai topi usangnya, aku ngomel-ngomelpadanya karena telah membuatku menunggu. Bukannya ikut tersulut, penjual baksoyang kira-kira berumur lima puluhan itu malah menjawab dengan perkataan yangmembuatku seketika tak nafsu makan.

"Maaf, Bu. Saya hanya tidak mau melupakan yang memberikan sayahidup dan memberikan rezeki pada keluarga saya. Apa yang saya lakukan barusanjuga belum tentu diterima oleh-Nya. Saya hanya ingin menjadi hamba yangtaat."

Saat itu, seketika lututku bergetar hebat. Aku merasakan gebrakan yangbegitu kuat dalam hati. Entah mengapa saat itu juga aku berjanji untuk mengenalTuhan yang telah memberikanku hidup, rezeki, keluarga yang harmonis, dan banyakhal. Pikiran yang selama ini bergaung di telingaku bahwa Tuhan tidak ada segerasirnah saat itu juga berganti dengan pikiran bahwa Tuhan itu ada. Dia yangmenciptakan segala kehidupan di muka bumi ini.

Kini, hingga usiaku mencapai lima puluh dua tahun, aku masih dan semogatetap mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Seluruh turunanku juga kudidik agarmengerti agama secara mendalam. Tahun 2010 lalu, aku menunaikan haji yang keduabersama dengan keluarga besarku. Berkali-kali kuucap istighfar di sepanjanghidupku, semoga Tuhan menerima taubatku selama tiga puluh empat tahun lalu itu.Amin.

Follow On Twitter